Artikel Minggu Ini



Jika hendak melakukan pekerjaan dengan cepat, tanggap dan tepat, segala sesuatu seharusnya sudah terjadwal. Dan jadwal ini menjadi patokan untuk menyediakan tugas-tugas kita, tapi tidak seperti robot. Selain itu, harus dipahami juga bahwa gerak ini harus bersikap aktif, bukan pasif. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, seorang kyai dari Pondok Modern Gontor sering berpesan, “Bergeraklah, karena dalam gerak itu ada berkah” (Taharrak, fainna fil harakati barakah).

Kita memang dituntut seperti ini, karena perputaran waktu begitu cepat, ditambah lagi dengan dinamika sosial dan kebidupan manusia juga begitu sepatnya. Dan waktu akan terasa sedikit kalau dibandingkan dengan banyaknya pekerjaan yang harus kita selesaikan. Al-Quran mengajarkan, jika kita telah selesai mengerjakan satu pekerjaan, maka bersegeralah untuk mengerjakan pekerjaan lain dengan sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (Alam Nasyrah: 7). 

Sebagian ahli tafsir mengatakan, apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadahlah kepada Allah, apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan, apabila telah selesai mengerjakan shalat dan berdoalah. Teladan tentang proaktif dan responsive ini bisa kita lihat dalam kisah Burung Hud-hud Ketika dalam perjalanan pulangnya ke negeri Sulaiman, ia mendapatkan informasi penting terkait dengan kerajaan Saba’. Burung Hud-hud mendapati masyarakat di sana menyembah matahari dan berbuat syirik kepada Allah. 

Pemandangan ini menimbulkan inisiatif Hud-hud untuk melihat lebih jauh keadaan negeri Saba’ agar bisa dilaporkan kepada Nabi Sulaiman. Ini adalah bentuk responsifitas yang tinggi, dan kesigapan untuk memberikan laporan kepada pimpinan. 

Dalam beberapa kesempatan saya sering mengatakan, “Orang yang sukses adalah orang yang keras kemauannya.” Ia menjadi bagian orang yang membuat perubahan (anashir taghyir) dalam berbagai hal, walaupun kecil. Sebab Rasulullah sebagai visioner yang menginginkan dakwahnya bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), telah melakukan langkah-langkah pasti, keras, dan cerdas, walaupun itu kecil dan sepele.

Seperti saat perang Ahzab, beliau telah mencontohkan kerja keras dalam menggali parit atau memukul batu. Kisah yang sangat terkenal adalah ketika memukul batu beliau telah meramalkan – dengan izin Allah – bahwa Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Begitulah, mimpi besar diawali dengan kerja keras yang kadang terlihat sepele, Tapi inilah cermin dari sikap antisipatif kita.

Ciri-ciri pribadi yang selalu antisipatif di antaranya:

1. Tanggap terhadap lingkungan sekitar (sense of social crisis)    

2. Berinisiatif mencari informasi dan solusi

3. Mempunyai langkah-langkah yang pasti untuk mengubahnya

4. Mampu menyelesaikan tepat waktu

Semoga bermanfaat.

Sumber: Street Wisdom, Sudjarwo Marsoem, 2010.


Artikel

Artikel Minggu Ini

Jika hendak melakukan pekerjaan dengan cepat, tanggap dan tepat, segala sesuatu seharusnya sudah terjadwal. Dan jadwal ini menjadi patokan u...